Rabu, 07 November 2012

Saya dan Media Sosial


Saya adalah satu diantara milyaran juta generasi status quo di dunia yang berada di era E-Lyfestyle (Gaya hidup elektronik). Kehadiran media elektronik dengan menggabungkan beberapa fitur seperti media massa dan sosial semakin mendekatkan saya dengan akses antar-pengguna menjadi demikian mobile. Fleksibilitas media sosial yang saya dapatkan melalui media eleketronik ini sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
Di satu sisi, saya sebagai mahasiswi ilmu komunikasi sangat dituntut mampu mengamati dan menganalisa keberfungsian media sosial sebagai new media dalam perkembangan teknologi komunikasi. Kenapa harus media sosial? Karena di masa depan media sosial akan semakin dikembangkan, bahkan mungkin trend  media sosial yang kita saat ini seperti Facebook, twitter, my space, youtube dll tidak lagi menjadi new media di kalangan generasi selanjutnya.
Hal menarik yang ingin saya komentari soal media sosial adalah, kemampuannya yang secara massive dapat mempengaruhi tata-negara dan harmonisasi internal politik suatu negara. Sebagaimana yang diketahui, saluran komunikasi politik yang terdiri dari komunikasi massa, komunikasi interpersonal dan organisasi telah diadaptasi dan disederhanakan keberadaannya semenjak hadirnya media sosial.
Kemampuan media sosial dalam konteks diatas bisa saja mengkhawatirkan kepentingan beberapa kelompok, namun yang perlu digarisbawahi “peran media tidak hanya membawa dampak negatif, tetapi juga dampak positif sebagai fungsi penyebar iinformasi secara besar-besaran.

The Power of Beauty for Indonesia’s Bright Future


Kecantikan memiliki pengaruh besar bagi kehidupan. Banyak sekali peristiwa besar yang diabadikan sebagai fenomena akbar dan dikenang hingga saat ini ternyata menyiratkan sebuah kisah yang sarat akan perempuan dan kecantikan. Pesona kecantikan Cleopatra yang fenomenal sekali sebagai ratu Mesir, atau kisah cinta sang zionis besar Jerman dengan kekasihnya Eva Braun. Dua wanita legendaris ini diyakini telah mampu melumpuhkan hati para pejuang anti-kemanusiaan lewat kecantikannya yang mampu membuat kekasih mereka mencintainya setengah mati.
            Figur wanita-wanita cantik diatas kian menguatkan argumentasi saya bahwa citra fisik merupakan kebutuhan yang sangat fundamental bagi perempuan untuk senantiasa dijaga dan disyukuri keindahannya. Karena kepekaan manusia terhadap nilai estetika seringkali memberikan kesan yang menentukan bila terjadi pertemuan berikutnya. Predikat cantik dan menarik menjadi alasan bagi mereka untuk dipercaya dalam melakukan banyak hal. Itulah mengapa banyak perempuan yang berupaya untuk tampil cantik baik dalam kegiatan sehari-hari maupun seremonial penting dalam hidup mereka. 
Banyak wanita cantik yang kemampuan intelegensinya rendah. Ada juga yang cerdas dan cantik namun memiliki kepribadian dan moral yang buruk. Kekurangan-kekurangan ini akan mengurangi esensi kecantikan menjadi tidak sempurna. Itulah sebabnya saya menyimpulkan bahwa perempuan cantik itu adalah yang memenuhi kriteria tersebut. Cantik, cerdas, dan menarik. Adakah perempuan bangsa kita memiliki ketiga citra tersebut? Karena  Negara kita membutuhkan sosok “Wanita Cantik” untuk mendukung roda kepemimpinan didalam negeri.
Bisakah anda bayangkan jika Negara kita tidak memiliki sosok Kartini? Wanita cerdas dan berani tentunya memiliki kecantikan secara lahiriah sehingga mampu memukau pemerintah kolonial Belanda hingga tersentuh dan terpengaruh olehnya. Kita membutuhkan Kartini-Kartini muda untuk terus berkarya dalam membangun bangsa yang lebih maju. Pertanyaannya, kiat apakah yang dibutuhkan untuk melahirkan generasi perempuan yang cantik? Saya menyebutnya dengan THE POWER LUX.
Kepribadian yang cantik direfleksikan sebagai pengendalian diri yang matang atau disebut dengan Positive attitude. Seorang perempuan yang memiliki jiwa tangguh dan kemampuan beradaptasi yang  baik pasti memiliki kecerdasan emosional yang baik pula. Kepekaan diri dalam menyikapi dunia sekitar akan menjadikannya tampil sebagai wanita dewasa dan elegan. Tentunya, hal ini menjadi poin yang penting sebagai tolak ukur kecantikan dimana seorang perempuan dengan kelebihannya ini mampu bersinergi dalam melakukan diplomasi, negosiasi dan persuasi.
Poin berikutnya yang juga harus diperhatikan untuk melahirkan generasi perempuan cantik adalah lingkungan sosial atau Other People. Perempuan yang cantik sangat memerlukan penilaian dari orang lain. Baik itu berupa pujian, maupun koreksi atas tindakan yang merusak nilai estetika dalam dirinya. Perempuan akan semakin cantik apabila dapat bersikap terbuka dalam menerima pendapat ataupun penilaian orang lain terhadapnya karena jika tidak itu berarti Ia telah menjadi wanita yang angkuh dan tidak pandai berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Hal ini berpotensi merusak citra perempuan Indonesia yang ramah dengan khas orientalnya (ketimurannya).
Word, atau kata merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya dalam merefleksikan kecerdasan intelegensi seseorang. Perempuan yang memiliki Ability in communication skill akan terlihat semakin mempesona dengan retorika yang menarik karena pengetahuan dan bahasa yang banyak dikuasainya. Artinya, dengan semakin banyaknya perempuan Indonesia yang sadar akan pentingnya meningkatkan kemampuan berkomunikasi, Ia akan mampu berkontribusi baik sebagai citra maupun duta bangsa untuk mendukung dan melaksanakan program kerja multinasional dengan Negara-negara asing.
Untuk senantiasa terlihat cantik, perempuan harus bisa mengembangkan dirinya. Jurus ini disebut dengan Expand. Tidak ada kecantikan yang lahir begitu saja tanpa ada upaya untuk mengembangkan diri baik secara kognitif dan afektif. Perempuan yang proaktif dalam mengembangkan potensi dirinya akan semakin terpancar aura kecantikannya lewat pesonanya yang percaya diri dan penuh inspirasi.
The last but not the least, Perempuan membutuhkan ruang bebas untuk dibina dan dimotivasi agar mereka antusias dalam mempercantik lahir dan batinnya. Saya menyebutnya dengan Release. Sebagaimana yang menjadi ciri khas Indonesia sebagai Negara yang demokratis dan berkesesuaian dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga seluruh bangsa Indonesia telah dijamin sepenuhnya untuk berhak mengembangkan dirinya secara normatif baik dalam pendidikan dan mempertahankan hidupnya sesuai dengan pasal 28 UUD 1945.
Inilah yang perlu kita budayakan dalam menata generasi perempuan yang cantik dan berfikiran maju untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih cerah. Karena sebuah Negara bagaikan bangunan rumah. Peran perempuan sebagai pilar-pilar yang menyokong haruslah perempuan yang kuat, menarik dan hebat agar terciptalah sebuah bangunan yang kokoh.




There’s Always Rainbow after the Rain


Kompetisi adalah bagian dari passion hidup saya. Perkembangan kualitas dan kapabilitas pribadi adalah alasan mengapa saya memilih untuk berada di zona yang tidak stabil. Griffin menyatakan dua kekuatan pendorong perubahan adalah, kekuatan internal yakni perlunya strategi baru dan perbaikan sikap, serta kekuatan eksternal seperti perubahan norma aturan dan kondisi krisis. Dua kekuatan ini telah melatar belakangi pilihan saya untuk mempertahankan eksistensi diri di tengah kondisi globalisasi.
            Tanpa mengurangi kecintaan saya dalam mengasah keringat di arena kompetisi, baru-baru ini saya telah mengagetkan sejumlah pihak yang mengetahui bahwa saya tengah mengikuti pemilihan putri pariwisata Bengkulu 2012. Saya memahami betul selentingan negatif mereka yang menentang keberanian saya dalam mengikuti kompetisi tersebut. Selain karena tidak ada pengalaman serupa dalam sejarah, secara fisik dan penampilan hijab saya jarang sekali didefinisikan sebagai kriteria seorang putri. Coffey, Cook dan Hunsaker berpendapat, alasan penolakan perubahan diantaranya karena ada rasa takut tidak mampu berubah.
            Tidak peduli dengan resiko, saya memutuskan untuk konsisten mengikuti pemilihan tersebut. Pernah terbesit rasa galau ketika melihat kompetitor lain yang begitu siap dan antusias, namun saya hadapi proses audisi dengan percaya diri dan ikhlas. Ternyata perubahan memang seringkali membawa masalah. Pada malam menjelang audisi saya mengklaim diri saya sebagai orang yang tidak tahu diri dan bermaksud mengundurkan diri dari seleksi. Tiba-tiba sebelum  deal untuk benar-benar berhenti, semangat bertarung saya kembali berapi dan lebih panas karena saya menaruh harapan positif bagi perubahan ini. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, namun saya dapat memperhitungkan keuntungan apa yang bisa saya raih jika berhasil melewati tantangan ini.
            Tahap demi tahap saya lewati hingga membawa saya berada dalam posisi finalis. Menjelang malam puncak penobatan, saya menyadari bahwa saya tidak bisa mengabaikan peran orang-orang yang saya abaikan. Saya membutuhkan peran mereka meskipun di lain sisi mereka tidak mendukung saya di awal. Saya putuskan untuk membeli beberapa undangan untuk kedua orang tua dan adik, jika mereka berhalangan hadir maka undangan ini akan kuapakan? Ternyata sungguh mengejutkan teman-teman saya menghubungi via sms bahwa mereka akan hadir memberikan dukungan.
Tampaknya penjelasanku di awal, dan konsistensi selama mengikuti proses pemilihan telah menjadi pembuktian bagi penolakan mereka, sehingga mengatasi masalah perubahan yang aku pilih dan menerima perubahan tersebut dengan dukungan penuh. Meskipun tidak menjadi Putri Pariwisata Bengkulu yang akan berlaga di nasional, malam itu aku meraih dua predikat sebagai runner up 2 dan putri intelegensi. Tentu saja, prestasi ini aku dedikasikan untuk pihak yang kulibatkan dalam perubahan kecilku.